Senin, 12 Januari 2015

PROSES PEMBUATAN JAKET KULIT

PROSES PEMBUATAN JAKET KULIT
SECARA SINGKAT

Jaket kulit dibuat menggunakan jaket kulit hewan sebagai bahan dasar. Proses pembuatannya sendiri melalui beberapa tahap dan proses yang membutuhkan keahlian, ketelitian dan tentunya kesabaran karena proses pembuatannya cukup menyita waktu yang relatif lama. Meskipun saat ini kulit domba menjadi alternatif yang cukup populer dan banyak diidamkan oleh para pecinta jaket kulit, namun tetap saja proses pembuatannya sama persis dengan kulit binatang lainnya. 


Bahan Dasar Jaket Kulit

Kulit antelope (sejenis rusa afrika), kulit rusa, kulit domba, kulit kambing, kulit sapi dan kulit adalah yang paling sering digunakan untuk membuat jaket kulit. Kulit hewan yang telah diambil segera didinginkan, digarami atau direndam air asin. Setelah didinginkan, kulit dikirim ke tempat penyamakan kulit di mana kulit tersebut menjalani serangkaian proses seperti pencucian, pengeringan, pencabutan bulu, dan pengawetan. Proses tersebut sangat penting untuk memastikan bahwa produk pakaian yang dihasilkan berkualitas tinggi. Bahan untuk menjahit seperti benang, lapisan, pita jahitan, kancing, risleting dan umumnya dibeli dari vendor luar dan disimpan di pabrik garmen.

Penyamakan Kulit (HidesTanning)

Proses paling awal pembuatan jaket kulit ialah mengumpulkan sejumlah binatang yang akan diambil kulitnya kemudian dilanjutkan dengan hides tanning atau penyamakan kulit. Pada awal proses ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan seperti
  • Pencucian kulit hewan (washing)
  • Proses pengeringan kulit hewan (drying)
  • Proses pencabutan bulu (menghilangkan bulu)
  • Proses pengawetan  (preserving)

Pewarnaan (Coloring)

Proses selanjutnya ialah pewarnaan (coloring) bahwa warna dasar jaket kulit ialah hitam dan coklat, namun bisa juga menentukan warna apa saja sesuai dengan selera menggunakan zat kimia pewarna.

Pembuatan pola desain atau model jaket kulit

Setelah bahan baku selesai diproses hingga proses pewarnaan (coloring), maka tahap selanjutnya adalah pembuatan pola desain atau model jaket kulit. Pada zaman dulu pembuatan pola pakaian jaket kulit masih menggunakan teknik tradisional yaitu dengan membuat pola diatas kertas/karton secara manual, bahkan sampai sekarang pun teknik ini masih dipertahankan oleh beberapa pengrajin jaket kulit. Belakangan setelah tersentuh oleh kemajuan teknologi, maka sebagian pengrajin membuat pola desain jaket kulit yang sudah menggunakan software komputeruntuk mempercepat proses pengerjaan.

Sewing proses penjahitan

Seperti layaknya membuat pakaian baju atau celana, maka proses pembuatan jaket kulit pun memiliki banyak kemiripan. Setelah menyelesaikan pembuatan pola desain atau model jaket kulit, maka dilanjutkan dengan proses sewing atau menjahit. Proses penjahitan (sewing) bisa dilakukan menggunakan mesin jahit secara manual atau bisa juga dengan sistem konveksi untuk produksi dalam partai besar. Keterampilan dan kelihaian dalam membuat pola desain model jaket kulit serta proses penjahitan (sewing) dapat mempengaruhi kenyamanan dan kerapihan jaket kulit ketika dipakai. 

Pemolesan Jaket Kulit (Rouging)

Inilah proses akhir pembuatan jaket kulit, yaitu proses pemolesan atau disebut juga dengan rouging. Proses pemolesan rouging dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran dan noda yang masih tersisa ketika jaket masih dalam tahap produksi, serta menjadikan permukaan jaket tampak mengkilat. Demikian langkah demi langkah mengintip proses pembuatan jaket kulit domba.
Continue reading PROSES PEMBUATAN JAKET KULIT

SEJARAH SINGKAT TENTANG PENYAMAKAN KULIT

SEJARAH TENTANG PENYAMAKAN KULIT HEWAN

Penyamakan kulit merupakan salah satu aktivitas manusia tertua di dunia. Awalnya, kulit yang diperoleh dari kegiatan beternak dan berburu hewan digunakan sebagai pakaian atau tenda kulit. Akan tetapi, kulit-kulit hewan tersebut menjadi kaku ketika berada di suhu rendah sementara akan membusuk ketika dipanaskan. Oleh karena itu, manusia berusaha untuk membuat kulit hewan menjadi lebih fleksibel dan kuat dengan cara menggosok lemak hewan pada kulit hewan. Hal inilah yang menjadi awal mula proses penyamakan kulit yang disebutkan di dalam abjad Bangsa Assyria dan Iliad Homer.

Proses pengolahan kulit yang lainnya adalah mengasapi kulit, yang pada mulanya terjadi secara kebetulan kemudian menjadi penyamakan kulit dengan menggunakan zat kimia formaldehyde. Zat kimia formaldehyde merupakan zat kimia yang ditemukan di dalam uap air yang dihasilkan dari pembakaran dedaunan hijau dan dahan pohon. Berdasarkan hal tersebut, maka terjadilah penemuan dimana proses pembusukan pada kulit hewan juga bisa dihentikan dengan cara dikeringkan (dijemur dibawah terik matahari) atau diasinkan dengan garam). Penyamakan kulit tanaman juga telah dikenal sejak zaman purba meskipun tidak diketahui dengan jelas bagaimana proses penyamakan kulit pada tiap jenis tanaman (khususnya pohon oak) ditemukan. Metode penyamakan kulit lainnya yang diketahui pada masa awal adalah penyamkan kulit dengan menggunakan tawas (semacam mineral yang tersebarluas di berbagai belahan dunia, khususnya di daerah sekitar gunung berapi.
Metode-metode tersebut secara bertahap menjadi lebih berseni dan efisien sehingga membuatnya digunakan dalam peradaban kuno dan berlanjut dari abad kea bad hingga masa kini. Penggunaan metode-metode tersbut juga telah menyebarluas. Hal tersebut ditandai dengan penemuan sejumlah naskah-naskah dan lukisan-lukisan yang ditemukan oleh para arkeolog. Di daerah Mesopotamia antar millennium ke-5 SM hingga millennium ke-3 SM, contohnya, Bangsa Sumeria menggunakan kulit sebagai gaun panjang dan mahkota untuk kaum wanita. Bangsa Assyria menggunakan kulit sebagai alas kaki, namun juga sebagai kantong air dan sebagai pengapung rakit. Masyarakat India Kuno pertamakali membuat semacam tipe kulit yang dikenal masa kini sebagai “Morocco”.


Orang Mesir Kuno juga telah mencapai kemajuan besar dalam pengolahan kulit hewan yang digunakan untuk pakaian, sarung tangan, perkakas, senjata atau ornament. Strabo, seorang ahli sejarah menceritakan hal yang menarik dari penemuan Bangsa Funisia, yaitu membuat pipa air dari kulit. Pada zaman Romawi Kuno, kulit digunakan secara luas di seluruh provinsi Kekaisaran Romawi. Pada masa itu pula, teknik penyamakan kulit yang lebih efisien ditemukan dimana teknik tersebut tidak dikembangkan di tempat tersebut.





Orang Romawi menggunakan kulit sebagai pakaian dan alas kaki, serta untuk membuat tameng dan baju zirah. Tempat penyamakan kulit tidak terbongkar diantara reruntuhan kota Pompeii dan perlengkapan yang sama masih digunakan berabad-abad kemudian setelah penemuan tersebut.
Lompat kea bad ke 8 M, Spanyol (kemudian dibawah pengaruh bangsa Moor) telah mengembangkan produk kulit yang disebut Cordovan. Produk tersebut merupakan sejenis tipe kulit yang terkenal di seantero Eropa berabad-abad. Kemampuan menyamak kulit tipe Cordova tiak begitu istimewa di dunia Barat sebagaimana yang telah diceritakan oleh Marco Polo. Dalam perjalanannya, ia bercerita bahwa Bangsa Mongol menggunakan botol, selimut, topeng, dan topi yang terbuat dari kulit yang telah dihiasi secara berseni. Dari hal itulah, Marco Polo menciptakan sebuah ungkapan “Kulit Russia” yang menunjukkan  sejenis kulit dengan bau yang khas.

Kemajuan pesat teknik penyamakan kulit terjadi pada abad ke-12 M dengan tidak adanya perubahan besar dalam teknik penyamakan kulit. Meskipun penyamakan kulit dengan minyak digunakan untuk produksi pakaian jadi protektif


  Pada abad ke-14 M, penggunaan kulit dicampur dengan kayu pada kursi, lengan kursi, dan kursi panjang yang dibuat dengan keterampilan yang telah mencapai level bentuk seni. Hal ini juga sama dengan permadani (khususnya di Venezia pada abad ke-15 dan ke-16) dengan lemari dan peti, serta jilid buku .



Perubahan drastis terjadi belakangan ini dengan penemuan kemampuan garam krom dalam menyamak kulit sehingga dapat meningkatkan produksi dan dipalikasikan dalam industry. Perubahan drastic lainnya terjadi dengan digantinya komponen lubang samak dengan drum putar. Hasil dari inovasi-inovasi tersebut membuat jangka waktu proses penyamakan kulit menjadi lebih singkat dari 8-12 bulan menjadi hanya beberapa hari saja. Kembali ke masa lalu,  dengan melihat system dan perkakas yang digunakan untuk mengerjakan kulit, maka dapat dilihat bahwa mulai dari zaman Palaeolitik hingga sekarang proses dan perkakas hampir tidak ada perubahan, hanya saja lebih efisien dan nyaman.


Perkakas yang sama untuk menguliti, mengorek, mencukur, menggantung, dan menghias kulit yang ditemukan pada tiap zaman.


  

Ini adalah demonstrasi lebih lanjut yang menunjukkan fakta bahwa proses penyamakan kulit berkaitan erat dengan sejarah umat manusia dengan melestarikan keterampilan menyamak kulit meskipun system otomatisasi telah berkembang pesat.


Continue reading SEJARAH SINGKAT TENTANG PENYAMAKAN KULIT

Selasa, 08 Oktober 2013

JAKET SMKN 1 JABON

JAKET HASIL KARYA ANAK KRIA KULIT 

SMKN 1 JABON TH.2013 KLS 12

1. Khanifatul fauriyah memakai jaket hasil karya sendiri dengan model polos saku satu di sebelah kanan, jahitan sedikit rapi   maka layak mendapatkan nilai: 8.5


 2. Danang wahyu ilahi nilai 7.5
 3. dewi setia ningsih :7.7
 4. diki dwi nilai : 7.5
 5.dwiki erman : 7.7
 6. erlina maretha putra : 8
 7. ika kurnia sari : 7.8
8. Anita safitri  :7.5
 



9.m.agus salim :8.5
 10. m ali ridho : 7.8
 11. faza daroini : 8.0
 12. m. syafaat : 7.6
 13.
 14. nikmatus sholikha : 8.5
 15. nur azizah : 8.4
 16. tutik sriyatun : 8.0
 17. wulandari : 7.8


Continue reading JAKET SMKN 1 JABON

Selasa, 01 Oktober 2013

daftar tempat prakerin jurusan kria kulit th 2013/2014 SMKN 1 JABON

DAFTAR TEMPAT PRAKERIN TH 2013/2014
 KRIA KULIT SMKN 1 JABON

1.      PT  DAIMATU INDUSTRY TBK.                       


 
·         DIMAS WIRANDANI PUTRA
·         KHUSNUL KHOTIMAH
·         NITA NURHIDAYATI PRIANGKA
·         MUKHAMMAD NUR KHAFID
·         ZAENAL ABIDIN
·         ANI UMEGAWATI

2.      CV TASINDO MANDIRI
·         MOCH SYAFIUDIN
·         M.ROHBIT
·         SELAMET YUSUF
·         DEWI ISMACHUL FAUZIYAH
·         SITI AMINAH
·         UMI KULSUM

3.      UD ZIZ BORDIR DAN BAG’S
·         ALIFIYUL ANFIFI
·         RIZKA ANGRAINI

4.      DEWI SOUVENIR AND CRAFT
·         ANGGA SETIAWAN
·         MOCH SYAIFUDDIN

5.      PT ECCO INDONESIA
·         ARIN MAFTUKHA
·         DURROTUL  LAILIYAH
·         IMROATUS SHOLIKHA
·         SITI NUR HIDAYATI
6.      CV DWI JAYA ABADI
·         LAILUL MUZAKI
·         MIFTAHUL NIKMAH
·         ABDUR ROHMAN

7.      PT KARYA MITRA BUDI SENTOSA
·         KHOIRUL NUR AMALAH
·         SITI NURUL HIDAYATI
·         SURROTUL  FATIMAH
·         KRISNA YUDHA SUKMAWAN

8.      PT KHARISMA JAYA
·         HENI RATNASARI
·         FIKRIYAH HANIM
·         IIS MUZAHROH
·         AHMAD LUKMAN HAKIM


Continue reading daftar tempat prakerin jurusan kria kulit th 2013/2014 SMKN 1 JABON

Selasa, 30 Juli 2013

empat aktivitas dasar desain interaktif

Empat Aktivitas Dasar Desain Interaktif

Empat Aktivitas Dasar Desain Interaktif
1.      Identifikasi kebutuhan dan menentapkan requirement
Untuk mendesain sesuatu yang mendukung manusia, kita harus mengetahui siapa target user kita dan jenis pendukung produk interaktif hang harus disediakan. Kebutuhan ini membentuk basis requirement produk dan menyokong desain dan pengembangan berikutnya. Aktivitas ini fundamental untuk pendekatan berorientasi user, dan sangat penting dalam desain interaktif.
2.      Mengembangkan desain alternatif
Ini merupakan aktivitas inti desain: sesunggunya menyarankan ide-ide untuk menemukan requirement. Aktivitas ini dapat dipecah lagi ke dalam dua sub aktivitas: desain konseptual dan desain fisik. Desain konseptual mencakup membuat model konseptual untuk produk, dan sebuah model konseptual menggambarkan produk apa yang akan dibuat dan dijalankan. Desain fisik mempertimbangkan detil produk yang mencakup warna, suara, dan gambar yang akan digunakan, desain menu, dan desain ikon. Alternatif-alternatif dipertimbangkan pada setiap poin.
3.      Membangun versi desain interaktif
Desain interaktif berarti mendesain produk interaktif. Cara yang sangat pantar bagi user untuk mengevaluasi desain seperti itu, kemudian, adalah berinteraksi dengannya. Ini membutuhkan versi desain interaktif yang akan dibangun, tapi tidak berarti bahwa sebuah perangkat lunak selalu dibutuhkan. Terdapat teknik yang berbeda untuk mencapai “interaksi,” tidak semua membutuhkan perangkat lunak. Contoh, prototype berbasis kertas merupakan sangat cepat dan murah dibangun dan sangat efektif untuk mengidentifikasi masalah-masalah di awal tahapan desain, dan melalui permainan peran para user dapat memperoleh makna sebenarnya dari apa yang sesuai untuk berinteraksi dengan produk.
4.      Evaluasi desain
Evaluasi adalah proses penentuan usability dan acceptability produk atau desain yang diukur dengan variasi kriteria yang meliputi sejumlah error yang dialami user, seberapa menarik, seberapa bagus sesuai dengan requirement, dan sebagainya. Desain interaktif membutuhkan level tinggi keterlibatan user melalui perkembangan, dan ini meningkatkan peluang produk acceptable yang sedang dikirimkan. Dalam sejumlah situasi desain anda akan menemukan sejumlah aktivitas yang berhubungan dengan jaminan kualitas dan pengujian untuk meyakinkan bahwa produk akhir itu “fit-for-purpose” (sesuai tujuan). Evaluasi tidak menggantikan aktivitas-aktivitas ini, tapi melengkap dan meningkatkan kualitasnya.
Aktivitas-aktivitas pengembangan desain interaktif, pembangunan versi desain interaktif, dan evaluasi dilibatkan: alternatif-alternatif dievaluasi melalui versi desain interaktif dan hasilnya menjadi masukan untuk desain berikutnya.
Sumber: 2002. Gaynor, Editor. Interaction Design Beyond Human-Computer Interaction. USA: John Wiley & Sons, Inc. (hal. 168)
Continue reading empat aktivitas dasar desain interaktif